Arsip Blog

04 Februari 2010

KRITIK SASTRA

BUNGLON
Melayang gagah, meluncur rampis,
Menentang tenang, alam samadi,
Tiada sadar marabahaya;
Alam semesta memberi senjata.

Selayang terbang ke rumpun bambu,
Pindah meluncur ke padi masak
Bermain mesra di balik dahan.
Tiada satu dapat menunggu.
Akh, sungguh puas berwarna aneka,
Gampang menyamar mudah menjelma,
Asalkan diri menurut suasana.
O, Tuhanku, biarkan daku hidup sengsara,
Biar lahirku diancam derita,
Tidak daku sudi serupa.

Gema Tanah Air, H. B. Jassin

       Dalam puisi di atas, dapat dilihat bahwa penulis menggambarkan dirinya sebagai bunglon yang dapat berganti warna kulit sesuai tempatnya. Bunglon di puisi ini melambangkan orang yang berpihak ke sana-sini. Tapi pada bait terakhir penyair menunjukkan kekhilafannya. Penyair sadar bahwa sifat seperti bunglon itu tidaklah sesuai keinginannya.
      Dilihat dari diksinya, puisi ini cukup menggambarkan sifat manusia yang seperti bunglon, berpihak kesana-sini. Namun, terdapat kata-kata yang sukar dimengerti oleh orang awam, seperti rampis dan samadi (bait pertama). Dalam bait pertama dan kedua digunakan juga kalimat-kalimat yang sukar dipahami. Penggambaran bunglon sebagai perlambang orang yang suka berpihak ke sana-sini baru bisa tersampaikan dengan baik pada baris kertiga. Penggambaran yang jelas mengenai sifat bunglon agak kurang pada bait-bait lainnya.
      Metafor yang digunakan pada puisi tersebut, yaitu bunglon sebagai simbol orang yang suka berpihak kesana-sini tepat sekali karena memang bunglon bisa menyesuaikan diri dengan sekitarnya dengan cara mengganti warna kulitnya.
      Puisi ini sebenarnya sudah cukup menyampaikan maksud dari penyair tersebut. Meski ditemukan beberapa kalimat dan kata-kata yang sukar dimengerti, tapi secara keseluruhan puisi ini maknanya sudah bisa tersampaikan dengan baik.

0 komentar:


By Animart