Arsip Blog

27 Maret 2009


MAAF DEMI NIRWANA


Malam ini aku menulis sebuah lagu. Lagi. Aku termenung dan menikmati indahnya rembulan dan bintang-bintang yang seolah tersenyum manis kepadaku. Tapi, malam ini aku kembali bersedih.

Aku kembali teringat kejadian tadi pagi. Rina memarahiku karena satu hal. Ini bukan yang pertama. Dia sudah sering bertengkar denganku. Dia memang membenciku. Sangat membenciku. Aku juga membencinya. Sama seperti dia membenci aku. Pagi yang seharusnya indah oleh kicauan burung-burung kecil itu menjadi suram karena pertengkaran kami.

Haaaah……… Aku menghela nafas. Sejenak kemudian aku beristighfar karena ingat kalau keluh kesah itu tidak baik. Lagu yang kutulis saat itu seakan menggambarkan keinginanku yang sesungguhnya. Tentang Rina. Juga aku. Aku jadi ingat kalau sesama muslim itu dilarang saling mendzalimi. Tapi apa daya? Semua usahaku untuk minta maaf hilang dihempas ombak kemarahannya.

Ada yang bilang dia suka aku. Pun sebaliknya, ada yang bilang aku suka dia. Tapi aku tak peduli pada semua fitnah yang tak berdasar itu. Yang aku ingin tahu apakah kami bisa berbaikan.

Dulu dia tidak begitu. Dulu dia manis dan penurut. Semenjak dia merubah penampilannya, dia jadi suka marah-marah terutama padaku. Awalnya kami akrab, tapi sekarang setiap hari laksana perang. Kucoba minta maaf. Dia Cuma bilang, “Ya, kumaafin!” Tapi dia sama sekali tidak kelihatan tulus. Dan pertengkaran tetap berlanjut.

Ku ambil Handphone-ku dan ku-SMS dia. Kuketik sebaris kalimat sambil tetap memangku gitar kesayanganku.


Rin, afwan yg td pg,y?? Antum mw mfinq,kn??


Kutunggu balasan darinya. Lama. Dia tidak kunjung membalas SMS-ku. Saat aku hendak beranjak dari dudukku, tiba-tiba Handphone-ku bergetar. Rina membalas.


Y


Hanya satu kata, atau lebih tepatnya satu huruf. Kelihatannya dia masih kesal. Aku sekali lagi mencoba menikmati indahnya malam yang berangin sejuk ini dan menatap langit yang penuh bintang. Aku duduk di teras rumah berlantai keramik warna merah ini dengan perasaan sedih. Di dalam rumah, keluargaku tak ada yang peduli terhadap apa yang kupikirkan saat itu. Agaknya mereka punya masalah masing-masing. Sambil memetik senar gitar, kunyanyikan 2 bait lagu yang baru kubuat.


Yang aku butuhkan hanyalah nirwana

Yang aku dambakan hanyalah surga

Tapi kau telah berikan ku penghalang

Tuk gapai nirwana yang sesungguhnya


Kubakarkan tabir tinggi hatiku

dan ku merendah demi maafmu

Tapi kau masih berikan ku penghalang

Tuk gapai nirwana yang sesungguhnya

[[[[---------------]]]]


Sudah pagi. Semalam hujan rintik. Tidak deras tapi membuat jalanan jadi basah oleh air. Setelah shalat Subuh dua rakaat aku berdoa supaya Allah menunjukkan jalan padaku untuk menyelesaikan masalah ini. Semogo Allah menjawab doaku.

Aku mulai mencoba untuk melupakan masalah ini dan fokus pada ulangan Geografi nanti. Soalnya pasti susah, pikirku. Aku pun mempersiapkan segalanya untuk berangkat sekolah.

Aku memasuki gerbang SMA-ku. Takjub. Aku kagum saat melihat bangunan gapura bercat biru muda itu. Walupun sudah tua tapi masih indah dipandang. Subhanallah!! Allah telah menciptakan manusia dengan kemampuan berbeda-beda. Belum tentu orang lain bisa merancang dan membangun gapura seindah yang ada di depan mataku ini. Subhanallah!!

Siang ini insiden itu terjadi lagi. Kami bertengkar. Kali ini gara-gara dia pikir aku nyontek jawaban ulangan Geografinya tadi. Memang nilai kami kebetulan sama. Tapi nggak logis banget, pikirku. Mana mungkin aku bisa nyontek jawabannya kalau meja guru berada persis di depanku? Aku coba jelaskan tapi dia tak mau mengerti. Sudahlah, nanti dia juga capek sendiri.

[[[[---------------]]]]


Pulang sekolah aku langsung makan siang. Setelah itu mengambil air wudhu untuk Shalat Dhuhur dan kembali berdoa semoga masalahku ini cepat selesai. Tidak lama aku sudah merebahkan diri di atas kasur bermotif bunga-bunga yang empuk itu.

Tiba-tiba hanphone-ku berdering. Telepon. Aku ingin mengabaikannya karena sudah mengantuk. Tapi menurutku tidak sopan kalau aku mengabaikannya begitu saja. Bismillah!! Aku bangkit dan mengambil handphone-ku di laci meja yang berada tepat di sebelah kasurku. Kujawab telepon dengan berkata “Assalamu’alaikum!” Terdengar suara perempuan yang lembut di seberang menjawab salamku. Tasya! Bukankah dia sahabat Rina? Aku mencoba untuk tidak berpikir yang bukan-bukan dan mulai berbicara.


“Dion?”

“Ya?’”

“Ini aku, Tasya. Kamu lagi tidur? Maaf kalo aku ganggu kamu.”

“Nggak, kok. Aku lagi nganggur.”

“Kamu masih marah sama Rina?”

“Sejujurnya, aku nggak marah sama sekali ke dia, kok.”

“Bener, ta??”

“Suerr!! Kalo aku buhong tanggung jawabnya sama Allah.”

“Maafin dia, ya? Kamu mau, kan?”

“Dari tadi juga udah aku maafin. Nggak perlu kamu suruh.”

“Ya udah kalo gitu. Makasih, ya!”

“Jangan berterima kasih untuk suatu kewajiban.”

“Nggih, Pak Kyai. He…he…he… Bye!”

“Bilang Assalamu’alaikum, dong!”

“Oh iya, Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam Warahmatullah!”


Aku rebahan lagi dan mencoba memejamkan mataku. Kumatikan Handphone-ku agar tidurku tidak diganggu. Aku agak kepikiran. Kenapa Tasya mau bersusah-susah minta maaf buat Rina? Tapi aku tidak memikirkannya terlalu lama karena beberapa menit kemudian aku sudah berlayar mengarungi samudra impian.

[[[[---------------]]]]


Semenjak hari itu, aku tidak bicara dengan Rina selama berminggu-minggu. Agaknya Rina benar-benar kesal kali ini. sebenarnya aku nggak terlalu memikirkannya. Minggu depan UTS dan aku masih belum paham beberapa bab pada pelajaran Kimia. Semoga saja ulangannya bisa kuhadapi dengan baik. Amin.

Sepulang sekolah, aku merasakan sesuatu yang ganjil. Entah apa itu. Mungkin perasaanku saja. Tapi begitu aku mau keluar dari gerbang sekolah, Tasya mencegatku dan memaksaku untuk diajak bicara.

“Dion, kamu tahu nggak, kenapa Rina sering marah-marah ma kamu?”

“ Pastinya nggak tahu persis. Kenapa?”

“Dia tuh sebenarnya suka ama kamu tapi dia nggak berani ngomongnya. Dia ngerubah penampilan buat caper ma kamu. Tapi kamunya nggak ada respon.”

“Ooo… jadi gitu ceritanya?”

“Kok, cuman gitu, sich? Pergi ke sana, dong! Temenin dia!” Tasya menunjuk tempat Rina duduk.

“Maaf, aku tidak mau terjadi fitnah. Kalau mau bicara, suruh dia telepon. Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam!”

Ooo… jadi itu alasannya kenapa Tasya mau minta maaf buat Rina. Soalnya dia tidak mau aku dan Rina semakin jauh dan tidak akur. Yah, nantilah kupikir lagi.

[[[[---------------]]]]


Baru sebentar tertidur, handphone-ku berdering dan membangunkanku. Nada deringnya terdengar lembut. Lagu dari Michael Jackson yang judulnya Give Thanks to Allah ini sebenarnya kurang buat membangunkanku dari tidurku. Tapi gara-gara aku lupa mematikan Handphone dan getarannya yang begitu keras ditambah lagi kutaruh di bawah bantal, membuatku nyaris melompat. Sejenak kunikmati dulu lagu dari MJ ini sebelum kuangkat dan mengucapkan salam. Lagunya yang lembut membuatku semakin kagum dengan ciptaan Allah. Subhanallah!! Terdengar suara yang sangat tidak asing bagiku.


“Dion!”

“Ya?”

“Ini Rina, kamu udah denger kalo aku suka ma kamu?”

“Ya, dari Tasya.”

Tut…tut…


Telepon putus.

Aneh. Dia sengaja atau memang handphone-nya sedang habis baterai? Yah, aku Cuma bisa Psitive thinking aja. Tidak lama handphone-ku bergetar. SMS.

Dion, Sry.. q lp klo pls telponq tgl dkit&skrg hbz.

Q cman bs SMS,doank…

Q mw tx ssuatu blh,g???

Lalu kubalas.

Slakan, slma q bisa jwb antum blh tny.

Dibalas lagi.

Qm sre nie da acr,g??

Q pgen ktm ma qm.

D Café Salsa bs, g??

Sepertinya dia mau mengatakan hal yang tadi tertunda di telepon. Agaknya tidak sopan kalau aku bilang “nggak” begitu aja. Akhirnya kubalas.


Insy ALLAH bs. Ntar sre b’da Ashar,y??


Dibalas lagi.


Y, mkci…

[[[[---------------]]]]


Aku datang ke Café Salsa tepat setelah Shalat Ashar. Kali ini aku berdoa supaya dilindungi dari segala bentuk zina dan maksiat. Aku masuk ke Café dan melihat ada ukiran indah di pintunya. Bertuliskan kalimat Basmalah dalam bahasa Arab. Rina sudah menunggu di Meja nomor 2 dari depan pintu.

“Sudah lama nunggu?” Aku sedikit berbasa-basi.

“Nggak, baru aja nyampe.”

Sejenak kami saling diam. Rina memesan es jeruk manis. Sementara aku tidak memesan apa-apa. Aku lagi membiasakan diri untuk puasa Senin-Kamis dan sekarang hari Kamis yang berarti aku sedang puasa. Tapi aku tidak mau mengatakannya pada Rina kalau aku sedang puasa. Aku tidak mau mengganggu kenikmatan minuman yang diteguknya itu.

“Aku ingin kamu tahu kalau aku udah lama suka ma kamu.” Rina mulai angkat bicara dan sepertinya dia mau langsung to the point.

“Aku ingin jadi pacar kamu!” Dia mulai terus terang dan itu membuatku kaget dan bingung mau berkata apa. Tapi aku segera bisa mengendalikan diri.

“Maaf, apa aku tidak salah dengar?”

“Tidak. Pendengaranmu baik-baik aja. Aku bilang sekali lagi, ya! Aku tuh mau jadi pacar kamu.”

“Maaf, aku tidak bisa.” Aku mencoba tegas dan sepertinya itu membuatnya terperanjat.

“Kenapa? Apa yang kurang dari aku? Aku bener-bener cinta sama kamu, Dion!”

“Masalahnya bukan yang kurang dari kamu. Bukan. Sama sekali bukan. Aku juga percaya kalau kamu cinta ma aku. Aku percaya. Tapi ada yang lebih kucintai dari siapapun dan sedang aku kejar.”

“Siapa dia? Apa dia lebih cantik dari aku?”

“Allah dan rasulnya!” kataku tegas. Agaknya itu membuatnya semakin terperanjat.

“Aku ingin meniru setiap perbuatan Rasulullah dan menjadikannya suri tauladanku. Dan aku masih ingin konsentrasi pada ibadah dan sekolahku saat ini. Aku belum siap untuk menjalin hubungan dengan cewek manapun. Belum saatnya. Aku takut pada Allah. Aku tidak mau kamu menjadi penghalangku untuk menggapai ridho-Nya.”

“Tapi… tidakkah kamu juga mencintaiku?”

“Aku juga mencintaimu. Sangat. Tapi aku mencintaimu sebagai sesama muslim dan sesama muslim harus saling menyayangi dan mencintai.”

“Baiklah, tapi kamu bakal nyesel nggak pacaran sama aku!”

“Aku nggak akan menyesali setiap pilihanku. Inilah jalan hidupku.”

“Oke, mulai saat ini kita bukan teman lagi! Selamanya!”

“Kamu masih temanku selama kamu Islam, apapun yang terjadi.”

“Terserahlah!”

Dia pergi begitu saja meninggalkanku setelah membayar es jeruk manisnya di kasir.

“Pacarnya marah, ya mas?” Kasir itu usil menggodaku. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

Aku jadi teringat kembali dengan lagu yang kubuat tempo hari. Lagu yang kuberi judul Maaf Demi Nirwana. Tanpa sengaja aku mendendangkannya sambil berjalan pulang ke rumah.


Yang aku butuhkan hanyalah nirwana

Yang aku dambakan hanyalah surga

Tapi kau telah berikan ku penghalang

Tuk gapai nirwana yang sesungguhnya


Kubakarkan tabir tinggi hatiku

dan ku merendah demi maafmu

Tapi kau masih berikan ku penghalang

Tuk gapai nirwana yang sesungguhnya


T_A_M_A_T

0 komentar:


By Animart